81
Tahun RI
17 Agustus 2026

Dirgahayu Republik Indonesia

Bersatu Berkarya Menuju Indonesia Emas 2045.

News Flash

Terpopuler
Memuat postingan terpopuler...

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Tugas Akhir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas Akhir. Tampilkan semua postingan

Proposal Tugas Akhir : ANALISIS FORENSIK DIGITAL PADA PERANGKAT ROUTER MIKROTIK PASCA SERANGAN BRUTE FORCE MENGGUNAKAN METODE LIVE FORENSICS

BAB I: PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Router MikroTek merupakan salah satu perangkat jaringan yang paling banyak digunakan oleh instansi pemerintah, swasta, maupun penyedia layanan internet skala kecil-menengah karena harganya yang terjangkau dan fiturnya yang kaya. Namun, popularitas ini juga menjadikannya target utama berbagai serangan siber, salah satunya adalah brute force attack (serangan yang mencoba kombinasi username dan password secara terus-menerus) pada layanan kritis seperti SSH, Winbox, atau Webfig.

analisa forensik digital


Ketika serangan terjadi, penanganan konvensional sering kali langsung melakukan reboot atau mematikan perangkat. Tindakan ini justru fatal dalam dunia forensik digital karena akan menghapus data temporer yang tersimpan di dalam memori acak (RAM/volatile data), seperti koneksi aktif, routing table, dan log sementara yang belum tertulis ke penyimpanan permanen (disk).

Oleh karena itu, diperlukan pendekatan Live Forensics. Metode ini memungkinkan investigator melakukan akusisi dan analisis data digital saat perangkat RouterOS MikroTik masih dalam kondisi menyala (running). Hal ini penting untuk menjaga integritas bukti digital yang rapuh (volatile) agar dapat melacak jejak digital penyerang secara akurat pasca-serangan terjadi.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Bagaimana cara mengamankan dan mengakuisisi data volatile dan non-volatile pada Router MikroTik pasca serangan brute force tanpa merusak integritas bukti digital?

  2. Informasi apa saja yang dapat diekstraksi dari Router MikroTik menggunakan metode Live Forensics untuk mengidentifikasi karakteristik dan asal serangan brute force?

1.3 Batasan Masalah

  1. Perangkat yang dianalisis adalah RouterBOARD MikroTik dengan sistem operasi RouterOS (versi 6.x atau 7.x).

  2. Fokus serangan dibatasi pada serangan brute force terhadap layanan Winbox (port 8291) atau SSH (port 22).

  3. Metode yang digunakan adalah Live Forensics, tidak mencakup deep physical chip-off forensics.

  4. Analisis dilakukan di lingkungan laboratorium simulasi lokal.

1.4 Tujuan Penelitian

  1. Menerapkan tahapan Live Forensics pada Router MikroTik untuk mendapatkan bukti digital yang valid pasca serangan brute force.

  2. Memetakan barang bukti berupa alamat IP penyerang, pola waktu serangan, dan dampak log yang dihasilkan pada sistem RouterOS.

1.5 Manfaat Penelitian

  • Bagi Praktisi Jaringan: Memberikan panduan taktis dalam menangani insiden keamanan pada router tanpa menghilangkan bukti digital.

  • Bagi Akademisi: Menambah literatur ilmiah mengenai penerapan live forensics pada perangkat berbasis jaringan (network forensics), khususnya vendor MikroTik.

BAB II: LANDASAN TEORI

2.1 Forensik Digital dan Jaringan

Forensik digital adalah penerapan ilmu pengetahuan untuk mengekstraksi, memproses, dan menganalisis bukti digital sedemikian rupa sehingga dapat diterima sebagai bukti sah di pengadilan. Forensik jaringan (network forensics) berfokus pada pemantauan dan analisis lalu lintas jaringan serta log perangkat untuk mendeteksi intrusi.

2.2 Live Forensics

Live Forensics adalah teknik analisis bukti digital yang dilakukan saat sistem target masih beroperasi. Keunggulan utamanya adalah kemampuan menangkap data volatile (mudah hilang saat perangkat mati). Urutan pengambilan bukti didasarkan pada Order of Volatility (OOV):

  1. Register dan Cache Memory

  2. Routing Table, ARP Cache, Process Table, dan Kernel Statistics

  3. Memori Utama (RAM)

  4. Penyimpanan Temporer (Temporary File Systems)

  5. Media Penyimpanan Non-Volatile (Harddrive, Flash ROM)

2.3 RouterOS MikroTik dan Celah Keamanan

MikroTik mengimplementasikan RouterOS yang memiliki sistem manajemen log dan keamanan internal. Kelemahan umum bukan terletak pada sistem operasinya, melainkan kelalaian admin dalam menutup port default atau tidak mengaktifkan fitur brute force protection (seperti address-list dynamic dropping).

2.4 Brute Force Attack

Brute force adalah metode serangan siber yang menggunakan perangkat lunak otomatis untuk menebak kredensial login secara masif. Pada MikroTik, serangan ini biasanya meninggalkan jejak log berupa pesan login failure yang berulang dalam frekuensi waktu yang sangat rapat.

BAB III: METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alur Penelitian

Penelitian ini mengadopsi kerangka kerja forensik standar (seperti NIST SP 800-86 atau SNI ISO/IEC 27037) yang dimodifikasi untuk kebutuhan live forensics:

[Pengumpulan/Simulasi Serangan] ➔ [Preservasi (Live Acquisition)] ➔ [Analisis Log & Memori] ➔ [Pelaporan]

3.2 Skenario dan Topologi Simulasi

Akan dibangun sebuah lingkungan uji coba laboratorium yang terdiri dari:

  1. Atacker Node: Menggunakan Kali Linux dengan alat bantu seperti Hydra atau Medusa untuk melancarkan serangan brute force.

  2. Target Node: Router MikroTik yang dikonfigurasi dengan akun standar.

  3. Forensic Investigator Node: Perangkat komputer yang terhubung secara aman untuk melakukan penarikan data (dumping).

3.3 Tahapan Live Forensics pada MikroTik

  1. Preservation: Melakukan koneksi ke router via konsol/SSH (menggunakan enkripsi agar paket data tidak termodifikasi) dan mengamankan status koneksi aktif saat itu menggunakan perintah /ip firewall connection print.

  2. Acquisition: Mengambil file log berjalan (/log print without-paging), konfigurasi terkini (/export), dan status memori (/system resource print). Semua output dialihkan ke storage eksternal investigator dengan disertai kalkulasi hashing (MD5/SHA-256) untuk menjaga integritasnya.

  3. Analysis: Memeriksa berkas log untuk memisahkan IP penyerang, menghitung frekuensi percobaan per detik, serta menganalisis beban CPU saat serangan terjadi.

  4. Reporting: Menyusun laporan teknis kronologi serangan berdasarkan bukti-bukti digital yang ditemukan.

BAB IV: JADWAL PELAKSANAAN

NoKegiatanBulan 1Bulan 2Bulan 3Bulan 4
1Studi Literatur & Penyusunan Proposal█
2Persiapan Alat & Konfigurasi Laboratorium█
3Simulasi Serangan & Akusisi Data (Live)██
4Analisis Data & Validasi Nilai Hash█
5Penyusunan Laporan Akhir Tugas Akhir█

DAFTAR PUSTAKA (REFERENSI)

  1. NIST. (2006). Guide to Computer Forensics Methodologies (SP 800-86). National Institute of Standards and Technology.

  2. ISO/IEC. (2012). Information technology — Security techniques — Guidelines for identification, collection, acquisition and preservation of digital evidence (ISO/IEC 27037:2012). International Organization for Standardization.

  3. Casey, E. (2011). Digital Evidence and Computer Crime: Forensic Science, Computers, and the Internet. Academic Press.

  4. MikroTek Documentation. RouterOS Log Management and Security Hardening. [Online Official Reference].

  5. Pratama, I. P. A. E. (2014). Digital Forensics: Tantangan dan Peluang di Indonesia. Informatika Bandung. (Atau referensi jurnal lokal bertema Network Forensics tahun 2022-2025 yang relevan).

Proposal Tugas Akhir : PENGEMBANGAN PROTOKOL KEAMANAN JARINGAN IoT BERBASIS KRIPTOGRAFI RINGAN (LIGHTWEIGHT CRYPTOGRAPHY) PADA PERANGKAT SMART HOME

BAB I: PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Teknologi Smart Home berbasis Internet of Things (IoT) telah mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Berbagai perangkat seperti lampu pintar, kunci pintu otomatis, kamera pengawas, hingga termostat kini saling terhubung untuk memberikan kenyamanan dan efisiensi bagi penggunanya. Namun, di balik kemudahan tersebut, jaringan smart home menyimpan celah keamanan yang sangat rentan. Banyak perangkat IoT dikirim ke pasar dengan konfigurasi keamanan minimal, kata sandi bawaan (default), serta tanpa enkripsi data yang memadai.

smarthome IoT Device

Karakteristik utama dari perangkat IoT pada smart home adalah keterbatasan sumber daya (resource-constrained devices), seperti kapasitas memori (RAM/ROM) yang kecil, daya pemrosesan (CPU) yang rendah, dan konsumsi energi yang harus hemat (seringkali menggunakan baterai). Protokol kriptografi konvensional seperti AES-128 atau RSA sangat berat jika diimplementasikan langsung pada mikrokotroler berdaya rendah (misalnya rumpun ESP8266 atau Arduino). Pemaksaan penggunaan algoritma standar ini dapat menyebabkan latency (penundaan) yang tinggi, pemborosan baterai, bahkan kegagalan sistem.

Oleh karena itu, diperlukan pendekatan baru dalam mengamankan komunikasi data pada jaringan smart home. NIST (National Institute of Standards and Technology) telah menginisialisasi standardisasi Lightweight Cryptography (LCC) atau kriptografi ringan yang dirancang khusus untuk perangkat dengan keterbatasan sumber daya. Penelitian ini akan berfokus pada pengembangan dan implementasi protokol keamanan jaringan IoT menggunakan algoritma kriptografi ringan (seperti ASCON atau PRESENT) untuk mengamankan pertukaran data pada arsitektur smart home tanpa mengorbankan performa perangkat.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Bagaimana merancang protokol keamanan jaringan IoT yang efisien untuk perangkat smart home yang memiliki keterbatasan sumber daya?

  2. Bagaimana mengimplementasikan algoritma kriptografi ringan (lightweight cryptography) pada komunikasi data antar perangkat smart home?

  3. Sejauh mana efektivitas protokol yang dikembangkan dalam hal konsumsi memori, kecepatan pemrosesan (throughput), dan ketahanan terhadap serangan siber dasar (man-in-the-middle attack, replay attack)?

1.3 Batasan Masalah

Agar penelitian ini lebih terarah, batasan-batasan masalah ditetapkan sebagai berikut:

  1. Algoritma kriptografi ringan yang digunakan difokuskan pada salah satu algoritma standar NIST terbaru (misalnya ASCON) atau cipher blok ringan (misalnya PRESENT).

  2. Perangkat keras simulasi menggunakan mikrokontroler berbasis keluarga ESP32 atau ESP8266 sebagai representasi perangkat smart home.

  3. Protokol komunikasi yang digunakan sebagai media uji adalah MQTT (Message Queuing Telemetry Transport) atau CoAP (Constrained Application Protocol).

  4. Pengujian keamanan dibatasi pada simulasi serangan Sniffing, Man-in-the-Middle (MitM), dan Replay Attack.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dari pelaksanaan penelitian Tugas Akhir ini adalah:

  1. Menghasilkan rancangan protokol keamanan baru yang berbasis kriptografi ringan yang sesuai untuk ekosistem smart home.

  2. Mengintegrasikan algoritma kriptografi ringan ke dalam arsitektur komunikasi data IoT (Node-to-Gateway).

  3. Menganalisis performa protokol berdasarkan parameter overhead memori, waktu komputasi, dan konsumsi daya.

1.5 Manfaat Penelitian

  • Bagi Akademisi: Memberikan kontribusi ilmiah dan referensi tambahan mengenai implementasi nyata kriptografi ringan pada teknologi IoT.

  • Bagi Industri/Pengembang: Menjadi acuan dalam menerapkan standar keamanan yang andal namun hemat sumber daya pada produk-produk smart home.

  • Bagi Pengguna: Meningkatkan rasa aman dalam mengadopsi teknologi rumah pintar tanpa khawatir data privasi mereka disadap atau disalahgunakan.

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Internet of Things (IoT) dan Smart Home

Internet of Things (IoT) adalah sebuah konsep di mana objek fisik dihubungkan ke internet dan dapat mengidentifikasi diri mereka sendiri ke perangkat lain. Pada arsitektur smart home, perangkat IoT umumnya terbagi menjadi tiga lapisan:

  • Lapisan Persepsi (Sensor/Aktuator): Mengumpulkan data fisik (suhu, gerakan).

  • Lapisan Jaringan (Gateway/Router): Mentransmisikan data menggunakan protokol seperti Wi-Fi, Zigbee, atau Bluetooth.

  • Lapisan Aplikasi: Antarmuka pengguna (aplikasi smartphone atau cloud dashboard).

2.2 Celahan Keamanan pada Jaringan IoT

Perangkat IoT sangat rentan terhadap berbagai serangan karena posisinya yang seringkali berada di jaringan terbuka. Beberapa serangan umum meliputi:

  • Eavesdropping/Sniffing: Penyadapan paket data yang dikirimkan dalam bentuk teks polos (plaintext).

  • Man-in-the-Middle (MitM): Penyerang menyusup di antara dua perangkat yang berkomunikasi untuk mengubah atau memanipulasi data.

  • Replay Attack: Penyerang menangkap paket data yang sah dan mengirimkannya kembali di kemudian waktu untuk mengelabui sistem (misalnya perintah membuka pintu pintar).

2.3 Kriptografi Ringan (Lightweight Cryptography)

Kriptografi ringan bukanlah kriptografi yang lemah, melainkan algoritma yang dioptimalkan agar membutuhkan jejak sirkuit (gate equivalent) yang kecil, ukuran RAM/ROM minimal, dan siklus instruksi CPU yang lebih sedikit.

KarakteristikKriptografi Konvensional (AES-128)Kriptografi Ringan (ASCON / PRESENT)
Ukuran Blok128 bit64 bit / 128 bit
Kebutuhan RAMTinggi (Proses s-box & key schedule rumit)Sangat Rendah (Optimal untuk arsitektur 8-bit/32-bit)
Konsumsi DayaSignifikanSangat Rendah

Penelitian ini akan mengadopsi algoritma ASCON (pemenang proses seleksi LWC NIST) yang mendukung AEAD (Authenticated Encryption with Associated Data), yang artinya algoritma ini mampu melakukan enkripsi sekaligus verifikasi integritas data dalam satu waktu.

BAB III: METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alur Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan mengikuti tahapan-tahapan sistematis sebagai berikut:

[Mulai] ➔ [Studi Literatur & Analisis Kebutuhan] ➔ [Perancangan Protokol] 
   ➔ [Implementasi Kode & Hardware] ➔ [Pengujian & Analisis] ➔ [Penyusunan Laporan] ➔ [Selesai]

3.2 Analisis Kebutuhan Sistem

Untuk mengimplementasikan sistem ini, dibutuhkan beberapa komponen perangkat keras dan perangkat lunak:

  • Perangkat Keras (Hardware):

    • 2 Unit ESP32 NodeMCU (Sebagai End-Node / Sensor & Aktuator).

    • 1 Unit Raspberry Pi 4 atau PC Laptop (Sebagai IoT Gateway & MQTT Broker).

    • Sensor Suhu DHT11 dan Relay Modul (Sebagai representasi perangkat rumah pintar).

  • Perangkat Lunak (Software):

    • Arduino IDE / PlatformIO (Untuk pemrograman mikrokontroler).

    • Library Kriptografi ASCON/PRESENT berbasis C/C++.

    • Wireshark (Untuk analisis paket data siber).

    • Mosquitto MQTT Broker.

3.3 Perancangan Arsitektur dan Protokol

Sistem dirancang dengan skema komunikasi terenkripsi dari ujung ke ujung (End-to-End Encryption) antara Perangkat Sensor/End-Node menuju Gateway.

1.Enkripsi Data di End-Node:Proses Sensor.

Sensor membaca data lingkungan (misal: suhu kamar). Data diubah menjadi plaintext, kemudian dienkripsi menggunakan Algoritma Kriptografi Ringan dengan kunci rahasia (symmetric key). Hasilnya adalah ciphertext dan tag autentikasi.

2.Transmisi via MQTT:Proses Jaringan.

End-node mempublikasikan (publish) ciphertext tersebut ke IoT Gateway melalui protokol MQTT dengan enkripsi ringan (tanpa SSL/TLS standar yang berat).

3.Dekripsi di Gateway:Proses Penerimaan Data.

Gateway menerima ciphertext, melakukan verifikasi tag autentikasi, kemudian melakukan dekripsi kembali menjadi plaintext menggunakan kunci yang sama untuk diproses ke aplikasi internal.

3.4 Metode Pengujian dan Parameter Evaluasi

Pengujian akan dilakukan dengan dua skenario besar:

  1. Uji Performa Komputasi:

    • Memory Footprint: Mengukur penggunaan RAM dan ROM pada mikrokontroler sebelum dan sesudah algoritma diterapkan.

    • Execution Time: Menghitung waktu (dalam milidetik) yang dibutuhkan untuk melakukan fungsi enkripsi dan dekripsi.

    • Throughput: Mengukur kapasitas data yang dapat diproses per detik.

  2. Uji Keamanan Jaringan:

    • Melakukan packet sniffing menggunakan Wireshark untuk memastikan data tidak dapat dibaca dalam bentuk teks polos.

    • Melakukan simulasi Replay Attack untuk menguji apakah protokol mampu mendeteksi dan menolak paket data lama yang dikirim ulang.

BAB IV: JADWAL PELAKSANAAN

Penelitian Tugas Akhir ini direncanakan selesai dalam waktu 4 (empat) bulan dengan rincian jadwal sebagai berikut:

NoKegiatanBulan 1Bulan 2Bulan 3Bulan 4
1Studi Literatur & Penyusunan ProposalX
2Analisis Kebutuhan & Pembelian KomponenXX
3Perancangan & Coding Protokol KeamananXX
4Pengujian Sistem & Simulasi SeranganXX
5Analisis Data & Penyusunan Laporan TAX

DAFTAR PUSTAKA

  1. NIST. (2023). NIST Selects ‘Ascon’ Family of Cipher Suites for Lightweight Cryptography Standardization. National Institute of Standards and Technology.

  2. Alavi, A., et al. (2021). Security and Privacy in Smart Home Networks: A Protocols and Vulnerabilities Survey. IEEE Access.

  3. McKay, K., Bassham, L., Turan, M. S., & Chang, R. (2016). Report on Lightweight Cryptography. NIST Interagency/Internal Report (NISTIR) - 8114.

  4. Setiadi, D., & Abdul Muhaemin. (2018). Penerapan Internet of Things (IoT) Pada Sistem Monitoring Rumah Pintar. Jurnal Infomedia.

 

Baca Juga