Simak profil lengkap Thomas A. Djiwandono, dari jurnalis hingga menjabat Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026–2031. Telusuri rekam jejak, latar belakang keluarga, dan karier politik serta ekonominya di sini.
![]() |
| Thomas A. Djiwandono |
Dunia ekonomi dan politik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir kerap memunculkan nama-nama strategis yang mengisi pos penting di pemerintahan. Salah satu sosok yang paling menarik perhatian adalah Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono. Pria yang akrab disapa Tommy ini memiliki rekam jejak yang unik—seorang sarjana sejarah yang sukses melintasi berbagai profesi, mulai dari jurnalis, analis keuangan, petinggi korporasi, bendahara partai politik, Wakil Menteri Keuangan, hingga kini resmi menduduki posisi sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Lahir dari keluarga dengan tradisi intelektual ekonomi dan jaringan politik yang kuat, Thomas Djiwandono berhasil membentuk jalurnya sendiri di panggung nasional. Artikel ini akan mengulas secara mendalam profil, latar belakang pendidikan, perjalanan karier, hingga peran strategisnya dalam lanskap kebijakan ekonomi Indonesia saat ini.
Latar Belakang Keluarga dan Garis Keturunan yang Kuat
Thomas A. Djiwandono lahir di Jakarta pada tanggal 7 Mei 1972. Berbicara tentang Tommy tidak bisa dilepaskan dari silsilah keluarganya yang kental dengan dunia ekonomi tinggi dan politik nasional.
Ia merupakan putra pertama dari pasangan Soedradjad Djiwandono dan Biantiningsih Miderawati Djojohadikusumo. Nama sang ayah tentu tidak asing bagi sejarah ekonomi Indonesia; Prof. Soedradjad Djiwandono adalah ekonom senior yang menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia pada periode krusial tahun 1993 hingga 1998, tepat di masa-masa awal krisis moneter melanda Asia Tenggara.
Sementara itu, garis keturunan dari ibunya menghubungkan Tommy langsung ke jantung kekuasaan politik saat ini. Sang ibu, Biantiningsih, merupakan kakak kandung dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Hal ini menjadikan Tommy sebagai keponakan langsung dari orang nomor satu di Indonesia tersebut, sekaligus keponakan dari pengusaha nasional Hashim Djojohadikusumo. Berada di lingkaran keluarga pejuang dan pemikir seperti kakek buyutnya, Margono Djojohadikusumo (pendiri Bank Negara Indonesia), darah perbankan dan ekonomi tampak mengalir kuat dalam tubuhnya.
Pendidikan Multidisiplin: Dari Sejarah ke Ekonomi Internasional
Meskipun lahir di tengah keluarga ekonom, Thomas memilih jalur yang cukup unik saat memulai pendidikan tingginya. Ia menyelesaikan pendidikan menengahnya di salah satu sekolah katolik ternama di Jakarta, yaitu Kolese Kanisius, Menteng. Lulus dari sana, ia memutuskan untuk merantau ke Amerika Serikat untuk menempuh studi sarjana.
Menariknya, gelar sarjana yang ia raih bukanlah di bidang ekonomi atau akuntansi, melainkan Sarjana Studi Sejarah (Bachelor of Arts in History). Tommy menyelesaikan kuliahnya di Haverford College, Pennsylvania, Amerika Serikat, pada tahun 1994. Ilmu sejarah yang ia pelajari membentuk kemampuan analisisnya secara struktural, memberikan perspektif yang luas mengenai bagaimana sebuah sistem makro dan peradaban bergerak dari waktu ke waktu.
Sadar bahwa dirinya perlu memperdalam instrumen praktis di dunia modern, Tommy kemudian melanjutkan studi pascasarjana. Pada tahun 2003, ia berhasil meraih gelar Master of Arts (M.A.) di bidang Hubungan Internasional dan Ekonomi Internasional dari School of Advanced International Studies (SAIS) di Johns Hopkins University, Washington, D.C., Amerika Serikat. Kombinasi antara ilmu sejarah, geopolitik internasional, dan ekonomi makro inilah yang kemudian menjadi fondasi kokoh bagi karier profesionalnya di masa depan.
Perjalanan Karier Awal: Menjadi Jurnalis dan Analis Keuangan
Sebelum masuk ke lingkaran korporasi besar dan pemerintahan, Thomas mengawali langkah profesionalnya dari bawah sebagai seorang pencari berita. Pada tahun 1993, ia sempat mencicipi dunia jurnalistik dengan menjadi wartawan magang di majalah berita legendaris, Tempo. Setahun kemudian, pada 1994, ia bergabung dengan Indonesia Business Weekly sebagai jurnalis penuh. Pengalaman di dunia pers ini mengasah kepekaan Tommy dalam membaca situasi lapangan, mewawancarai narasumber penting, dan merangkum isu-isu ekonomi yang rumit menjadi konsumsi publik.
Setelah membekali diri dengan pengalaman lapangan dan menyelesaikan studi magisternya, Tommy berpindah haluan ke sektor keuangan formal. Ia mulai bekerja sebagai analis keuangan di NatWest Market, Jakarta, pada periode 1996 hingga 1999. Selepas itu, ia melanjutkan kiprahnya sebagai konsultan di Castle Asia (1999–2000), sebuah lembaga konsultan strategi dan risiko terkemuka yang berbasis di Jakarta.
Kiprah di Sektor Korporasi dan Bendahara Umum Partai
Memasuki tahun 2004, kemampuan manajerial Thomas semakin diakui. Ia bergabung dengan Comexindo Internasional, sebuah perusahaan perdagangan internasional. Di perusahaan ini, perjalanan kariernya melesat secara bertahap:
2004–2008: Menjabat sebagai Direktur Pengembangan Bisnis.
2008–2009: Dipercaya menjadi Deputi Direktur Utama.
2010–2024: Resmi menduduki posisi puncak sebagai Direktur Utama.
Di samping memimpin Comexindo, dari tahun 2011 hingga 2024, Tommy juga mengemban amanah sebagai Deputi Direktur Utama di Arsari Group, sebuah perusahaan induk (holding company) milik pamannya, Hashim Djojohadikusumo, yang bergerak di sektor agrobisnis, pertambangan, energi, dan infrastruktur.
Di ranah politik, Thomas memilih untuk berada di balik layar sebagai pengelola stabilitas internal. Sejak tahun 2010, ia dipercaya menjabat sebagai Bendahara Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Di bawah kepemimpinannya sebagai "penjaga gerbang keuangan", Partai Gerindra berhasil mendapatkan predikat sebagai salah satu partai politik dengan laporan keuangan paling transparan dan akuntabel di Indonesia. Predikat ini bahkan diganjar penghargaan khusus dari lembaga swadaya masyarakat anti-korupsi terkemuka, seperti Transparency International Indonesia (TII) dan Indonesia Corruption Watch (ICW). Posisi ini diembannya dalam waktu yang cukup panjang sebelum akhirnya ia memutuskan mundur pada paruh pertama tahun 2025 guna menjaga netralitas profesionalnya di pemerintahan.
Masuk ke Pemerintahan: Wakil Menteri Keuangan (2024–2026)
Langkah Thomas ke panggung birokrasi eksekutif nasional dimulai secara resmi pada pertengahan tahun 2024. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 45/M Tahun 2024, Presiden Joko Widodo melantik Thomas A. Djiwandono sebagai Wakil Menteri Keuangan II pada tanggal 18 Juli 2024. Tugas utamanya saat itu adalah mendampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bersama Wakil Menteri Keuangan I, Suahasil Nazara.
Kehadiran Tommy di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) saat itu dinilai strategis oleh banyak pengamat. Sebagai keponakan dekat dari Prabowo Subianto yang kala itu berstatus sebagai Presiden Terpilih pasca-Pilpres 2024, posisi Tommy berfungsi sebagai "jembatan transisi". Ia bertugas memastikan bahwa penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk tahun anggaran berikutnya dapat mengakomodasi program-program unggulan pemerintahan baru tanpa merusak disiplin fiskal yang selama ini dijaga ketat oleh Sri Mulyani.
Ketika pemerintahan Kabinet Merah Putih di bawah Presiden Prabowo Subianto resmi berjalan, posisi Tommy sebagai Wakil Menteri Keuangan terus berlanjut hingga awal tahun 2026. Di Kemenkeu, ia banyak terlibat dalam sinkronisasi anggaran dan reformasi perpajakan guna mendongkrak pendapatan negara demi mendanai berbagai proyek infrastruktur dan jaminan sosial.
Transisi ke Otoritas Moneter: Deputi Gubernur Bank Indonesia (2026–2031)
Awal tahun 2026 membawa babak baru dalam perjalanan karier Thomas Djiwandono. Menyusul pengunduran diri Juda Agung dari jabatan Deputi Gubernur Bank Indonesia pada pertengahan Januari 2026, nama Thomas mencuat sebagai kandidat kuat yang diajukan untuk mengisi kekosongan posisi tersebut di bank sentral.
Proses penunjukan ini sempat memicu dinamika opini di kalangan ekonom dan publik. Beberapa pihak menyoroti potensi benturan independensi bank sentral, mengingat Thomas sebelumnya merupakan bagian dari otoritas fiskal (Kementerian Keuangan) dan memiliki kedekatan kekeluargaan dengan presiden petahana. Namun, dalam proses fit and proper test (uji kelayakan dan kepatutan) yang digelar oleh Komisi XI DPR RI pada 26 Januari 2026, Thomas berhasil meyakinkan para parlemen dengan memaparkan strategi tematik yang ia sebut sebagai strategi "GERAK".
Dalam paparannya, Thomas menekankan lima pilar utama yang berfokus pada:
Penguatan tata kelola (governance).
Akselerasi sinergi yang harmonis antara kebijakan fiskal (pemerintah) dan moneter (bank sentral) demi menjaga stabilitas likuiditas serta suku bunga nasional tanpa mengorbankan independensi institusi masing-masing.
Melalui Rapat Internal di hari yang sama, Komisi XI DPR RI secara musyawarah mufakat menyetujui pengangkatan Thomas Djiwandono. Keputusan ini disahkan dalam Rapat Paripurna DPR RI Ke-12. Berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 10/P Tahun 2026, Thomas A.M. Djiwandono resmi mengucapkan sumpah jabatan sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia pada hari Senin, 9 Februari 2026, di hadapan Ketua Mahkamah Agung. Ia dijadwalkan mengemban amanah mengawal stabilitas nilai Rupiah ini selama lima tahun penuh, yakni hingga tahun 2031.
Kesimpulan
Thomas A. Djiwandono adalah representasi dari figur teknokrat modern yang meniti karier lewat perpaduan pengalaman multidimensi. Berawal dari dunia literasi sejarah dan jurnalistik, beralih ke analisis keuangan korporasi, hingga matang dalam pengelolaan manajerial keuangan partai, ia kini berdiri di salah satu pilar tertinggi penentu kebijakan ekonomi nasional.
Meskipun bayang-bayang politik kekeluargaan sempat mewarnai langkahnya, rekam jejak profesionalnya di sektor korporasi serta keberhasilannya dalam mengawal masa transisi fiskal yang mulus di Kementerian Keuangan membuktikan kapasitas personalnya. Kini, sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia, tantangan besar telah menantinya di tengah ketidakpastian ekonomi global. Publik menaruh harapan besar pada sinergi baru yang diusungnya demi menjaga stabilitas moneter dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.







