Nama Prajogo Pangestu terus kokoh bertengger di puncak daftar orang terkaya di Indonesia. Pemilik gurita bisnis Barito Group ini merupakan salah satu sosok paling berpengaruh di pasar modal tanah air. Melalui ekspansi masif di sektor petrokimia, energi terbarukan, hingga infrastruktur hijau, pergerakan saham perusahaan-perusahaannya selalu menjadi barometer penting bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
![]() |
| Prajogo pangestu |
Namun, di balik gelombang kekayaan ratusan triliun rupiah tersebut, tidak banyak yang tahu bahwa taipan senior ini mengawali hidupnya dari titik yang sangat bawah. Bagaimana biografi, kisah sukses, dan dinamika bisnis seorang Prajogo Pangestu? Simak profil lengkapnya berikut ini.
Biodata Singkat Prajogo Pangestu
Nama Asli: Phang Djoen Phen
Tempat, Tanggal Lahir: Sambas, Kalimantan Barat, 13 Mei 1944
Usia: 82 Tahun
Pasangan: Herlina Tjandinegara
Sektor Bisnis Utama: Perkayuan (Dulu), Petrokimia, Energi Terbarukan, Pertambangan, Infrastruktur
Grup Perusahaan: Barito Pacific Group
Masa Lalu yang Keras: Dari Sopir Angkot ke Industri Perkayuan
Prajogo Pangestu terlahir dalam keluarga prasejahtera di Sambas, Kalimantan Barat. Akibat keterbatasan ekonomi, ia hanya mampu menyelesaikan pendidikan hingga tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Demi menyambung hidup dan mengadu nasib, ia sempat bermigrasi ke Jakarta, namun tak kunjung mendapatkan pekerjaan tetap hingga akhirnya memutuskan kembali ke kampung halaman.
Di Kalimantan Barat, Prajogo melakoni profesi sebagai sopir angkutan umum (angkot) rute Singkawang-Pontianak. Titik balik hidupnya terjadi di era 1960-an ketika ia berkenalan dengan Burhan Uray, seorang pengusaha kayu asal Malaysia pemilik PT Djajanti Group.
Melihat potensi dan etos kerja Prajogo yang tinggi, Burhan Uray mengajaknya bergabung. Karier Prajogo melesat cepat hingga dipercaya menjabat sebagai General Manager di PT Nusantara Plywood pada tahun 1976. Hanya setahun berselang, berbekal pengalaman dan keberanian, ia memutuskan keluar untuk merintis bisnisnya sendiri.
Pendirian Barito Pacific dan Raja Perkayuan Indonesia
Prajogo membeli PT Pacific Lumber Co. yang kemudian namanya diubah menjadi PT Barito Pacific Timber. Perusahaan ini sukses melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 1993. Di bawah kepemimpinannya, Barito Pacific tumbuh menjadi salah satu penguasa konsesi hutan dan produsen kayu lapis terbesar di Indonesia di era Orde Baru.
Melihat industri perkayuan yang mulai mengalami penurunan suplai bahan baku di awal tahun 2000-an, Prajogo melakukan pivot bisnis yang sangat krusial. Pada tahun 2007, ia memutuskan untuk mengurangi bisnis kayu dan mengubah nama perusahaan menjadi PT Barito Pacific Tbk, menandai transformasi perusahaan menuju konglomerasi sektor energi dan sumber daya alam.
Gurita Bisnis dan Penguasa Pasar Modal RI
Transformasi Barito Group menjadi raksasa ekonomi semakin nyata melalui langkah akuisisi berani dan aksi korporasi penawaran umum perdana (IPO) sejumlah anak usahanya. Empat pilar utama penyokong kekayaan Prajogo Pangestu di pasar modal saat ini meliputi:
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA): Perusahaan petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia yang menjadi motor utama hilirisasi industri kimia nasional.
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): Entitas yang fokus pada penyediaan energi bersih dan terbarukan, mengoperasikan salah satu pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) terbesar di dunia.
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN): Sektor pertambangan batu bara dan mineral yang memperkuat diversifikasi portofolio energinya.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Induk holding yang mengonsolidasikan berbagai lini bisnis strategis tersebut.
Selain di sektor energi, ia kini juga aktif memperluas ekspansi ke sektor infrastruktur hijau dan masuk dalam konsorsium investor domestik yang mendanai pembangunan di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Dinamika Kekayaan dan Posisi Terkini
Sebagai self-made billionaire, kekayaan bersih Prajogo Pangestu sangat bergantung pada valuasi pergerakan saham emiten-emiten miliknya di bursa efek. Forbes Real-Time Billionaires mencatat total kekayaannya berkisar di angka USD 18,6 miliar hingga USD 20,9 miliar (sekitar Rp322 triliun hingga Rp362 triliun).
Meskipun pasar modal kerap mengalami volatilitas tinggi—termasuk adanya tekanan pasar akibat penyesuaian (rebalancing) indeks global seperti MSCI baru-baru ini yang sempat mengoreksi nilai kapitalisasi pasarnya—posisi Prajogo tetap kokoh tak tergoyahkan. Ia bertahan sebagai Orang Terkaya Nomor 1 di Indonesia dan berada di jajaran papan atas miliarder wilayah Asia Tenggara (ASEAN).







